Apakah ANA Positif Selalu Berbahaya ?

Silahkan bagikan jika bermanfaat

Tes ANA (Anti Nuclear Antibodies) adalah pemeriksaan yang sangat populer di bidang rematik autoimun. Nama tes ini sangat mudah diucapkan dan diingat. Bisa mirip dengan nama orang atau mirip dengan nama salah satu perusahaan penerbangan ternama. Akan tetapi hasil tes ANA sering membuat pusing tujuh keliling. Begitu mendapatkan hasil yang positif, biasanya akan timbul kesedihan yang mendalam. Timbul pikiran buruk terkena penyakit berbahaya? Apakah benar demikian?

Dalam praktek sebagai Internis Rheumatologis, sangat sering pasien datang dengan panik oleh karena tes ANA yang positif. Sebelum membahas lebih lanjut mengensi tes ANA , fakta dibawah ini penting untuk dipahami :

  1. Tes ANA positif bisa ditemukan pada orang sehat, tidak  menyandang penyakit autoimun apapun.

2. Tes ANA bisa positif pada orang yang mengonsumsi obat tertentu, padahal orang tersebut tidak terkena penyakit rematik autoimun.

3. Tes ANA tidak digunakan untuk chek up, biasanya dokter/Rheumatologist melakukan tes ini berdasarkan dugaan adanya penyakit rematik autoimun.

4. Jangan panik dengan tes ANA, tetap konsultasi dengan dokter untuk interprestasi tes ini. Jangan membuat diagnosis sendiri.

 

Mari mengenal Tes ANA

Kita ketahui bersama tubuh diciptakan dengan suatu sistem. Sistem tersebut disebut sistem imun, memproduksi protein yang disebut antibodi. Antibodi ini akan  bekerja melawan gangguan pada tubuh (misalnya benda asing,virus, bakteri). Pada suatu keadaan antibodi ini salah bekerja. Dia salah mengenal tubuhnya sendiri sebagai benda asing. Dia tidak melawan benda asing , melainkan melawan dirinya sendiri (melawan sel normal tubuh sendiri). Antibodi ini disebut AUTOANTIBODI.

Apa yang dilakukan autoantibodi ?

Autoantibodi menyerang sel tubuh normal, karena dianggap sebagai benda asing/ musuh. Akibatnya dimulailah rangkaian peradangan atau inflamasi yang menyerang tubuh normal..

Jadi dok tes ANA itu sebernarnya apa?

Tes yang sangat populer diminta oleh Rheumatologist, selain Rheumatoid Factor. Tes ini menunjukkan adanya autoantibodi yang menyerang nukleus/inti sel sehingga disebut Antinuclear antibody (ANA).

Dok Tes ANA saya positif , apa artinya?

Adanya autoantibodi secara normal dalam jumlah sedikit dapat ditemukan pada orang sehat. Autoantibodi ini pada keadaan patologis dalam jumlah yang bermakna ditemukan pada beberapa penyakit rematik autoimun seperti:

  1. Rheumatoid Arthritis

2. Lupus

3. Sjogren Syndrome

4. Skleroderma

5. Juvenile ideopatic Arthritis (Penyakit Rematik Autoimun anak).

6. Polimiositis/Dermatomiositis

7. Mixed Connective Tissue Disease (MCTD), penyakit rematik autoimun kombinasi skleroderma, lupus dan polimiositis/dermatomiositis.

8. Hepatitis Autoimun dan banyak penyakit autoimun lainnya.

 

Mengapa ANA tes sangat terkenal dalam proses diagnosis autoimun?

Tes ANA pertama kali ditemukan 1957 pada serum pasien Lupus. Meskipun pada penemuan awalnya antibodi ini berkaitan dengan Lupus, namun saat ini diketahui autoantibodi berkaitan dengan penyakit rematik autoimun lain. Tes ANA sangat sensitif untuk Lupus (lebih dari 95 % lupus positif ANA tes). Sehingga Tes ANA yang negatif bisa membantu menyingkirkan diagnosis Lupus.

DokterRematikAutoimun.com - ANA Test 1
Konsultasikan hasil ANA pada dokter kepercayaan Anda

Apakah ANA positif pasti menyandang penyakit rematik aitoimun tertentu?

TIDAK. Sekitar 15% ANA positif terjadi pada orang normal. Konsultan Reumatologi menegakkkan diagnosis penyakit rematik autoimun (lupus, sjogren, skleroderma dll) tidak HANYA berdasarkan tes ANA positif. Diagnosis Lupus dan penyakit rematik autoimun lainnya, dibuat berdasarkan kombinasi gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis ini biasanya berdasarkan kriteria diagnosis yang dibuat oleh Rheumatologist dunia. Misalnya kriteria diagnosis oleh American College of Rheumatologi (ACR) atau European League (EULAR). Tes ANA yang positif tanpa disertai gejala klinis yang sesuai dapat terjadi pada orang yang sehat. Jadi percayakan penilaian hasil test ANA anda pada dokter. Jangan membuat asumsi sendiri.

Jadi bagaimana jika ANA saya positif?

Terdapat beberapa kemungkinan :

  1. Tidak ada gejala apapun , berarti anda normal.

2. Gejala klinis mengarah pada penyakit tertentu misalnya lupus, sjogren, skleroderma, RA dll. Tentu saja diagnosis harus dibuat oleh seorang dokter.

3. Akibat penggunaan obat tertentu, misalnya hidralazin, sulfadiaxin, prokainamid, isoniazid, metildopa, quinidin, minosiklin, klorpromasin.

Apakah titer ANA yang tinggi menunjukkan beratnya penyakit?

Tidak. Titer ANA yang tinggi tidak menunjukkan beratnya penyakit. Titer ANA juga tidak dapat digunakan untuk memantau keberhasilan pengobatan. Tes ANA akan positif walaupun pasien sudah remisi dan tenang dalam pengobatan. Jadi tidak perlu berulang- ulang melakukan tes ANA jika diagnosis sudah ditegakkan.

Saat ini terdapat lebih dari 30 antibodi antigen nukleus spesifik. Bagaimana pemeriksaannya?

Pemeriksaan ini yang selama ini dikenal sebagai ANA Profile. ANA Profile mendeteksi autoantibodi IgG dalam darah secara spesifik terhadap beberapa antigen.

DokterRematikAutoimun.com - ANA Test
Pentingnya mengetahui ANA Profile

Apa manfaat ANA profil?

Pada orang dengan ANA positif dan memiliki kecurigaan akan penyakit rematik autoimun, pemeriksaan ini dilanjutkan untuk melihat antibodi khusus yang khas untuk tiap penyakit.

Dok, antibodi apa saja itu? Contohnya :

  1. Lupus : Anti dsDNA, Anti Smith

2. Skleroderma : Anti Scl 70, Anti centromer

3. MCTD : U1 RNP

5. Sjogren Syndrome : Anti SSA/Ro dan Anti SSb/La

6. Dermatomiositis : Anti Jo1

7. Vaskulitis : pANCA dan cANCA , dan masih banyak lagi.

Dok, Anti dsDNA saya negatif , saya bukan lupus ya dok? Berarti selama ini saya salah minum obat?

Pendapat ini TIDAK BENAR. Sekali lagi diagnosis Rematik Autoimun tidak hanya berdasarkan hasil laboratorium. Anti dsDNA memang sangat spesifik buat lupus, tapi hanya positif pada 30-70 % pasien Lupus. Jadi tidak semua Lupus akan positif Anti dsDNA. Dan anti dsDNA yang negatif tidak menyingkirkan diagnosis lupus.

 

Mari belajar lebih banyak lagi tentang penyakit Rematik Autoimun,

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten

 


Silahkan bagikan jika bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *