Tag Archives: Penumonitis interstisial kronik

Kelainan Paru-paru pada Lupus

Anda pasti sudah sering mendengar tentang kelainan ginjal atau otak pada lupus. Namun mungkin belum banyak yang tahu, lupus bisa menyebabkan gangguan paru-paru. Gangguan paru ini bisa ringan sampai berat dan berbahaya. Teruskan membaca untuk mengenal manifestasi lupus pada paru-paru dan saluran nafas anda.

Sejak Abad ke 19, saat para ahli sudah melaporkan efek lupus pada paru-paru seperti nyeri pada saat bernafas , cairan di rongga paru dan adanya bercak-bercak paru. Kelainan paru pada lupus bisa terjadi pada selaput pembungkus paru (pleura), pada jaringan paru sendiri (parenkim paru), dan pada pembuluh darah paru.

Apa saja Kelainan paru-paru pada Lupus ?

  1. Pleuritis lupus (radang pada jaringan selaput pembungkus paru) dan efusi pleura (cairan pada rongga antara selaput paru dan paru-paru itu sendiri).

Pleura merupakan selaput yang memisahkan paru-paru dengan dinding dada dalam. Cairan yang berlebihan diantara 2 lapisan pleura itulah yang disebut efusi pleura. Kondisi ini  terjadi pada 34% lupus. Efusi pleura pada lupus bisa terjadi oleh karena aktivitas lupusnya, tapi bisa juga terjadi oleh karena infeksi paru, kelainan ginjal atau karena penyumbatan pembuluh darah arteri di paru (emboli paru).

  1. Pneumonitis lupus akut

Suatu kondisi yang jarang terjadi (1-4%). Kondisi ini bukanlah pneumonia (radang paru) biasa .Meskipun gejalanya timbul tiba-tiba seperti radang paru, namun pada Pneumonitis lupus akut, penyebabnya adalah penyakit Lupus itu sendiri, BUKAN oleh karena bakteri, TBC, atau jamur. Pada paru-paru dapat terjadi bercak-bercak ataupun timbunan cairan.

  1. Diffuse Alveolar Hemorrhage

Kondisi ini sangat jarang terjadi (0,5-5,7%), namun kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa jika tidak segera di tangani dengan tepat. Pada kelainan ini terjadi pendarahan pada saluran nafas dan paru. Biasanya kondisi ini sering disertai kelainan ginjal.

Lupus paru
Gangguan paru-paru pada lupus

 

  1. Penumonitis interstisial kronik atau sering disebut Interstisial Lung disease

Kondisi ini lebih sering terjadi pada penyakit Rematik Autoimun lain seperti Skleroderma, Rheumatoid Arthritis, Dermatomiositis, Sjogren dan MCTD. Penyandang lupus yang memiliki  anti-U1-RNP antibody lebih sering terjadi ILD.

  1. Hipertensi Arteri Pulmonal

Hipertensi pulmonal adalah peningkatan tekanan darah pada arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis adalah pembuluh darah besar yang membawa oksigen dari darah ke paru-paru. Akibat hipertensi pulmonal, sedikit darah yang dapat masuk ke paru-paru, sehingga oksigen yang ke aliran darah lewat paru-paru berkurang. Singkat cerita tubuh akan kekurangan oksigen. Sesungguhnya angka kejadian hipertensi pulmonal pada lupus cukup sering 9,3-14%.

Gejala apa yang bisa dirasakan oleh seseorang dengan Hipertensi Pulmonal?

  • Pada tahap awal mungkin tidak bergejala atau sangat ringan sehingga sering diabaikan
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Nyeri dada atau rasa berat dan tertekan di dada
  • Cepat lelah, pusing
  • Sesak nafas terutama jika jalan menanjak
  • Kaki bengkak
  1. Emboli paru

Emboli paru adalah suatu keadaan dimana terjadi penyumbatan arteri pulmonalis. Penyandang  lupus berisiko terjadi emboli paru 20 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan populasi umum. Terlebih lagi penyandang lupus sekitar 30-50% memiliki antibodi antifosfolipid. Adanya antibodi antifosfolipid meningkatkan risiko emboli paru.

  1. Infeksi Paru oleh karena bakteri, virus, jamur dan tuberkulosis.
  2. Kelainan paru lain yang lebih jarang seperti Acute Reversible Hypoxemia dan Shrinking Lung Syndrome.

 

Apakah ada gejala gangguan pernafasan pada pasien Lupus?

  • Nyeri dada pada saat menarik nafas atau membuang nafas
  • Batuk-batuk berkepanjangan
  • Batuk darah
  • Sesak nafas, cepat lelah jika melakukan aktivitas fisik sederhana
  • Demam berulang

 

Apakah gejala gangguan pernafasan pada Lupus selalu berat?

Tidak. Gangguan pernafasan gejalanya bisa sangat ringan sehingga sering diabaikan. Sebaliknya bisa sangat berat, sehingga jika tidak ditangani dalam hitungan jam dapat menyebabkan kematian. Gejala akut biasanya di temukan pada pneumonitis akut, diffuse alveolar hemorrhage, dan emboli paru. Pada udema paru, pasien bisa merasakan sesak nafas hebat tiba-tiba dan langsung kekurangan oksigen dalam waktu singkat. Sedangkan pada ILD, dan pleuritis paru, gejala pasien dapat perlahan-lahan sampai kemudian memberat jika tidak mendapatkan penanganan sejak awal. Penyandang lupus sebaiknya melaporkan semua keluhan yang berhubungan dengan pernafasan seperti batuk, nyeri dada, sesak nafas, kepada dokter yang merawat. Dokter yang merawat yang akan menentukan adakah suatu kelainan paru yang berhubungan dengan lupus, atau hanya infeksi paru .

Lupus dapat menyerang organ tubuh
Beberapa organ tubuh yang dapat terserang lupus

 

Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis gangguan pernafasan pada lupus?

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan laboratorium lengkap lainnya yang berhubungan dengan aktivitas penyakit lupus seperti komplemen C3, C4, dan Anti-ds DNA. Ada beberapa tes yang dapat  dilakukan pada penyandang lupus dengan gangguan pernafasan. Misalnya foto thoraks, spirometri, tes volume paru, diffusing capacity of the lungs for carbon monoxide (DLco), High resolution computer CT scan, bronkoskopi, pemeriksaan sputum, ekokardiografi, pemeriksaan biomarker dan kateterisasi jantung kanan. Rheumatologist anda yang akan memilihkan tes apa yang perlu anda jalani. Tes ini tidak perlu dilakukan untuk semua penyandang lupus dengan gangguan pernafasan.

 

Bagaiman penanganan gangguan paru pada Lupus?

Penanganan tergantung pada penyebabnya dan berat ringannya gangguan yang anda alami. Rheumatologist dapat bekerja sama dengan dokter paru dan dokter jantung untuk pengobatan anda. Pada efusi pleura dan pleuritis dapat diberikan kortikosteroid(prednisone, metilprednisolon dll), azatioprin, mikofenolat mofetil, siklofosfamid, immunoglobulin intravena, dan pada kasus tertentu dapat dilakukan plasmapheresis, pemasangan selang di rongga paru dan tindakan bedah jika tidak membaik. Pada kelainan lain seperti lupus pneumonitis akut, ILD, dan diffuse alveolar hemorrhage dapat diberikan siklosfosfamid, azatioprin, mikofenolat mofetil dan kortikosteroid. Pada emboli paru dapat diberikan antikoagulan. Pemilihan obat dan dosisnya tergantung pada berat ringannya penyakit.

 

Tips sederhana untuk gangguan pernafasan pada penyandang lupus:

  • Komunikasikan setiap gejala gangguan pernafasan dengan dokter yang merawat
  • Kontrol teratur dan jangan putus obat tanpa instruksi dokter
  • Berhenti merokok, hindari tempat berpolusi
  • Cobalah untuk tetap aktif, berolahraga teratur sesuai anjuran dokter dan fisioterapis
  • Komunikasikan kondisi anda dengan keluarga dan teman dekat, agar mereka bisa siap sedia jika ada situasi darurat
  • Jika anda mengalami GERD , kendalikan kondisi ini. GERD yang tidak tertangani dapat menyebabkan refluks ke paru dan hal ini tentu saja bisa memperburuk kondisi paru anda.
  • Upayakan untuk mencegah infeksi paru dan saluran pernafasan, diskusikan tentang vaksinasi dengan dokter anda.
  • Upayakan untuk menghindari kontak dengan orang yang sedang batuk-batuk atau bersin , dan sedang menderita cacar air atau gondongan. Karena anda lebih mudah tertular infeksi virus atau bakteri. Dan biasanya infeksi akan lebih memperburuk gangguan paru anda.

 

Salam sehat dan tetap semangat,

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten