Tag Archives: Lupus

Vitamin D dan Hubungannya dengan Lupus

Vitamin D merupakan primadona yang sangat populer di dunia’ pervitaminan’ saat ini. Jika dibandingkan dengan vitamin yang lain, vitamin ini unik karena merupakan vitamin yang bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia.

Bagaimana pembentukan vitamin D?
Pada saat kulitmu terpapar sinar matahari akan terjadi pembentukkan vitamin D. Vitamin D itu akan dibawah ke hati. Demikian juga vitamin D yang berasal dari makanan dan suplemen akan di bawa ke hati. Di hati vitamin D akan dirubah menjadi 25(OH)D. Apabila dokter menyebut vitamin D , maka yang dimaksud adalah 25 (OH) D. Kemudian oleh ginjal dirubah menjadi bentuk aktifnya 1,25(OH)D. Bentuk aktif ini yang akan banyak melakukan fungsi vitamin D pada tubuh manusia.

Bagaimana pengaruh vitamin D pada sistem imun kita?

  • Vitamin D terikat pada reseptor vitamin D (VDR) dan kemudian siap untuk menjalankan fungsinya.
  • Vitamin D tidak hanya berpengaruh pada metabolisme kalsium tapi juga berperan dalam pertumbuhan sel, perkembangan sel dan pengaturan sistem imun.
  • Reseptor vitamin D juga diekspresikan pada sel-sel imun kita (monosit, makrofag,neutrofil, natural killer cell , sel dendritik dan sel B dan Sel T).
  • Vitamin D membantu sistem imun innate pada reaksi awal melawan infeksi virus bakteri , protozoa. Sistem imun innate adalah sistem imun bawaan, sistem imun non spesifik, sistem imun pertama yang ada sejak manusia lahir. Misalnya pembatas epitel, kulit, kelenjar air mata dan kelenjar air ludah, neutrofil, dendritic, sel Natural Killer, dll.
  • Vitamin D juga berperan pada sistem imun adaptif/sistem imun spesifik ,misalnya sel T dan sel B.
kurang vitamin D
Yang berisiko kekurangan vitamin D

Peran utama vitamin D pada penyakit autoimun melalui:

  • Penghambatan aktivitas dan proliferasi Th1 dan Th17
  • Penurunan produksi sitokin penyebab inflamasi seperti IL-17; IL-12, IL-23
  • Penghambatan sel B dan dan produksi immunoglobulin

 

Berapa kadar vitamin D yang diharapkan?

Saat ini disepakati pada ahli bahwa  kadar vitamin D diatas 30 ng/ml( 80nmol/L) dapat mempertahankan kesehatan tulang  dan berfungsi baik untuk sistem imun kita. Penelitian ilmiah menunjukkan suatu keterkaitan yang kuat antara beberapa penyakit kronik dengan kadar vitamin D misalnya kanker, penyakit autoimun, penyakit kardiovaskular, diabetes dan penyakit infeksi.

 

Bagaimana hubungan vitamin D dengan Lupus?

Kadar vitamin D yang rendah sering ditemukan pada penyandang Lupus. Hubungan vitamin D dengan lupus bisa berlangsung dua arah. Lupus bisa menyebabkan kadar vitamin D  rendah. Disisi lain vitamin D yang rendah diduga mengganggu system imun sehingga dapat mencetuskan Lupus. Proses mana yang terjadi lebih dahulu belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

 

Mengapa pada Lupus sering terjadi kekurangan vitamin D?

  • Pada lupus pasien diminta untuk mengurangi paparan sinar matahari. Paparan matahari dapat mencetuskan flare atau kumat pada Lupus. Disamping itu kulit pasien lupus sangat sensitif pada paparan matahari. Sinar matahari merupakan sumber vitamin D yang sangat baik. Penyandang Lupus harus membatasi paparan sinar matahari, hal ini adalah salah satu penyebab terjadi kekurangan vitamin D pada penyandang Lupus.
  • Obat tertentu yang biasa digunakan pada pasien Lupus dapat mengganggu metabolisme vitamin D sehingga terjadi kekurangan Vitamin D. Obat tersebut misalnya golongan steroid, anti kejang, anti malaria dan golongan penghambat calsineurin .Akan tetapi tidak perlu khawatir secara berlebihan. Berdasarkan indikasi tertentu Rhematologist tetap akan memberikan obat tersebut untuk menjaga kestabilan lupus anda. Solusinya adalah tetap melakukan pemantauan kadar vitamin D secara teratur dan pemberian suplementasi vitamin D.
  • Penggunaan tabir surya dan gangguan pada ginjal yang sering terjadi pada Lupus dapat memperberat kekurangan vitamin D.

 

Apakah ada hubungan kadar vitamin D dan derajat aktivitas penyakit Lupus?

Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan kadar vitamin D yang rendah dapat mencetuskan flare/kumat pada Lupus. Kadar yang normal merupakan salah satu faktor yang dapat membuat Lupus menjadi stabil. Tentunya ini hanya merupakan salah satu faktor, masih banyak faktor lain yang berperan pada derajat aktivitas Lupus.

 

Apakah vitamin D berperan pada kekuatan otot pasien Lupus ?

Pada Lupus sering terjadi kelelahan umum  dan kelemahan otot. Reseptor Vitamin D terdapat pada otot. Beberapa studi ilmiah menyokong adanya perbaikan kebugaran secara umum dan kekuatan otot pada Lupus yang mendapatkan suplementasi Vitamin D.

Vitamin D juga berperan dan pencegahan dan pengobatan keropos tulang/osteoporosis pada Lupus.

Pada Lupus sering terjadi osteoporosis. Penyebabnya sangat banyak, misalnya karena sitokin proinflamasi pada lupus, obat-obatan seperti steroid, dan karena kekurangan vitamin D. Vitamin D sangat berperan menjaga kecukupan kalsium didalam tubuh kita lewat pengaturan penyerapan kalsium di usus, dan reabsorbsi di ginjal. Kadar vitamin D yang rendah dapat menstimulasi pembentukan hormon Paratiroid dan menyebabkan reabsorbsi tulang. Kondisi ini adalah pemicu terjadinya osteoporosis. Pada prinsipnya menjaga kecukupan Vitamin D dapat mencegah dan berperan pada pengobatan osteoporosis.

pertahankan vitamin D
Manfaat mempertahankan kadar vitamin D yang normal

Apakah vitamin D dapat mencegah fraktur/patah tulang akibat osteoporosis?

Selain berperan mencegah keropos tulang, vitamin D juga dapat menjaga kekuatan otot. Penelitian ilmiah menunjukkan suplementasi vitamin D dapat menurunkan risiko jatuh 19%, dan menurunkan risiko patah akibat jatuh pada 15-29% pasien.

Vitamin D juga ternyata ada hubungannya dengan penyakit kardiovaskular

Bukti ilmiah menunjukkan kekurangan vitamin D berkaitan dengan kejadian stroke, serangan jantung, kegemukan, dyslipidemia(kolesterol dan trigliserida tinggi), dan diabetes. Penelitian dari National Health and Nutrition Examination survey (NHANES III) memperlihatkan bahwa pasien dengan kadar vitamin D dibawa 20ng/ml , terjadi peningkatan risiko diabetes, hipertensi , kolesterol tinggi dan kegemukan. Semua ini merupakan faktor risiko untuk terjadinya kondisi kardiovaskular ( misalnya stroke dan serangan jantung). Pasien lupus sendiri berisiko terjadi gangguan kardiovaskular. Oleh karena itu mempertahankan kadar vitamin D yang normal pada Lupus dapat membantu mencegah stroke dan serangan jantung.

Ayo periksa kadar vitamin D anda, pertahankan kadar vitamin D normal untuk menunjang kestabilan kondisi penyakit rematik autoimun anda, kesehatan tulang, kekuatan otot dan mencegah gangguan kardiovaskular.

 

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten

Kesehatan Reproduksi pada Lupus dan Antiphospholipid Syndrome (APS)

Lebih dari 90% penyandang  Lupus adalah wanita usia produktif, antara 20-30 tahun. Tak heran jika masalah kontrasepsi, kehamilan dan kesehatan reproduksi merupakan topik pembicaraan menarik.

The European League Againts Rheumatism (Organisasi dokter/ Rheumatologist dan pasien rematik di seluruh Eropa) membuat suatu rekomendasi/ pedoman berdasarkan bukti ilmiah tentang masalah reproduksi pada lupus dan APS. Rekomendasi ini menjelaskan tentang kesehatan reproduksi, kontrasepsi, pada pasien lupus dan APS.

Pemilihan metode kontrasepsi yang tepat merupakan topik yang harus anda diskusikan dengan dokter yang merawat. Tujuannya agar kehamilan dapat dimulai pada waktu yang tepat sehingga menurunkan risiko pada ibu dan bayi.

Kontrasepsi apa yang dapat direkomendasikan pada pasien Lupus?

Diskusikan masalah kontrasepsi dengan Rheumatologist dan dokter kandungan anda. IUD (orang awam menyebutnya spiral) cukup aman digunakan pada pasien Lupus. Beberapa penelitian ilmiah menunjukan kontrasepsi dengan kombinasi estrogen dan progestin cukup aman pada pasien Lupus yang stabil/tidak aktif. Akan tetapi pada pasien Lupus dengan Sindroma Antifosfolipid, harus menghindari kontrasepsi hormonal karena meningkatkan risiko thrombosis (penyumbatan pembuluh darah). Terlebih lagi pada pasien Lupus/ APS yang pernah mengalami serangan jantung atau stroke. Pada kondisi ini kontrasepsi hormonal harus dihindari karena meningkatkan risiko stroke berulang.

Reproduksi Lupus
Anda penyandang lupus? Rencanakan kehamilan Anda dengan matang.

 

Dok, saya penyandang lupus dan saya ingin hamil. Apa yang harus saya lakukan?

Pertama anda harus merencanakan kehamilan dengan baik. Bicarakan hal tersebut dengan dokter/Rheumatologist yang merawat. Pertama , anda harus mendapatkan ijin hamil dulu. Ijin ini biasanya diberikan jika anda dalam keadaan stabil/ tidak flare.

Hal apa yang mungkin terjadi pada Lupus dengan kehamilan?

Bukti ilmiah menunjukkan kehamilan pada Lupus berisiko terjadinya prematuritas (kelahiran sebelum waktunya), preeklamsia (tensi naik, kebocoran protein di urin), eklamsia (preeklamsia dan kejang) dan sindroma HELLP (Hemolysis , Elevated Liver enzyme, Low Platelet). Sindoma HELLP merupakan suatu komplikasi kehamilan yang ditandai oleh gangguan hati dan gangguan darah pada lupus.

Para ahli sudah meneliti beberapa hal yang berisiko menimbulkan komplikasi kehamilan pada lupus seperti:

  • Hamil pada saat lupus sedang aktif /flare
  • Nefritis aktif/ lupus ginjal yang aktif
  • Hipertensi yang tidak terkontrol
  • Masih menggunakan kortikosteroid dengan dosis setara prednisone > 10-20 mg
  • Menghentikan hidroksikloroquin tanpa sepengetahuan dokter.

Dapat dipertimbangkan untuk menunda kehamilan jika wanita lupus mengalami hal diatas. Selalu diskusikan metode pengobatan dengan dokter yang merawat. Menghentikan hidroksikloroquin (Plaquenil) selama kehamilan dapat memicu kekambuhan  Lupus ( menjadi aktif /flare). Oleh karena itu jangan menghentikan obat berdasarkan asumsi sendiri.

Terapi apa yang dapat diberikan selama kehamilan?

Selama kehamilan hidroksikloroquin (plaquenil), steroid dosis kecil, azatioprin dapat diberikan sesuai indikasi yang ditetapkan oleh dokter. Siklofosfamid, mikofenolat mofetil, metotrexat dan leflunomid harus dihindari selama kehamilan karena berisiko kecacatan pada janin.

Dok , pemantauan apa yang harus dilakukan selama kehamilan?

Reproduksi Lupus 1
Pentingnya pemantaun kehamilan pada penderita lupus.

 

Pemantauan yang harus dilakukan selama kehamilan adalah:

  • Pemeriksaan fisik umum termasuk tekanan darah
  • Pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, urin
  • Pemeriksaan khusus untuk menilai derajat aktivitas Lupus seperti kadar komplemen C3,C4 dan Anti dsDNA. Rheumatologist akan bekerja sama dengan dokter kebidanan untuk pemantauan ibu dan bayi selama kehamilan.
  • Pemeriksaan USG rutin (Trimester pertama kehamilan 11-14 minggu, Trimester kedua antara 20-24 minggu, trimester ketiga setiap bulan).
  • Ekokardiografi janin dilakukan jika dicurigai ada gangguan jantung pada janin. Wanita lupus dengan anti Ro/SSA dan atau anti La/SSB+ berisiko melahirkan anak dengan Neonatal Lupus (0,7-2%), termasuk Congenital Heart Block (gangguan irama jantung pada janin). Deteksi dini kelainan jantung, pada saat janin dalam kandungan sangat penting. Pengobatan dapat dilakukan pada  ibunya jika ada indikasi khusus.

 

Anda lupus dan sulit hamil?

Beberapa laporan ilmiah menunjukkan pada pasien lupus yang tidak aktif cukup aman untuk melakukan fertilisasi invitro atau usaha memacu ovulasi jika dibutuhkan. Pada pasien Lupus dengan APS dapat diberikan aspirin dan heparin injeksi selama kehamilan.

Bagaimana dengan deteksi  dini kanker pada Lupus?

Secara umum risiko kanker payudara, ovarium, dan dinding rahim pada pasien Lupus tidak berbeda dengan populasi umum. Namun pasien Lupus berisiko tinggi terjadi cervical displasia (perubahan sel pada mulut rahim). Dianjurkan untuk melakukan pap smear rutin setiap tahun. Dapat dipertimbangkan untuk melakukan vaksinasi Human Papiloma virus pada pasien Lupus yang tidak aktif, tetapi harus berhati-hati pada pasien APS yang berisiko tinggi terjadi trombosis.

Itu adalah beberapa rekomendasi yang dibuat berdasarkan penelitian ilmiah. Namun demikian, tetap diskusikan dengan dokter yang merawat setiap tindakan atau prosedur yang akan anda jalani.

 

Persiapkan kehamilan pasien lupus dan APS sejak dini,

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten

 

Vitamin D dan Penyakit Rematik Autoimun (Vitamin D Part I)

Vitamin D saat ini menjadi primadona perbincangan di kalangan medis dan masyarakat umum. Bahkan majalah Time 2007 menyebut vitamin D sebagai top medical breakthrought.

Dahulu kita mengenal Vitamin D dan keterkaitannya dengan tulang dan proses osteoporosis. Namun saat ini vitamin D diteliti secara luas hubungannya dengan kondisi rematik autoimun, diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, dan bahkan pada kehamilan. Saat ini defisiensi vitamin D dalam situasi berbahaya karena diduga dialami lebih 50 % populasi dunia. Sebagai Rheumatologis saya akrab dengan vitamin D oleh karena sebagian besar penyakit Rematik Autoimun (Lupus, Sjogren, Rheumatoid Arthritis, Skleroderma dll) retan terkena defisiensi vitamin D. Padahal mempertahankan kadar vitamin D dalam batas normal sangat penting dalam pengelolaan penyakit Rematik autoimun.

Apakah perbedaan vitamin D dengan vitamin yang lain?

Vitamin D merupakan vitamin yang dapat diproduksi dalam tubuh manusia. Sangat sederhana cukup dengan bantuan sinar matahari , kulit manusia dengan proses biokimiawi yang cukup rumit memproduksi vitamin D. Terdapat beberapa proses biokimiawi yang berlangsung di tubuh manusia yang melibatkan hati dan ginjal untuk membuat vitamin D yang aktif.

Apa sebernarnya fungsi vitamin D?

Secara rutin Rheumatologis menganjurkan anda memeriksakan kadar vitamin D oleh karena beberapa peran penting vitamin D dibawah ini :

  • Vitamin D berperan membantu sistem imun dalam memerangi infeksi bakteri, virus, jamur dan protozoa
  • Vitamin D berperan dalam regulasi system imun, menghambat produksi sel imun yang berperan dalam inflamasi dan autoimunitas
  • Vitamin D merupakan kunci tulang yang kuat. Vitamin D membantu penyerapan kalsium yang anda konsumsi. Rheumatologist meresepkan Vitamin D bersama kalsium dan obat osteoporosis untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis
  • Vitamin D juga berperan dalam menjaga kekuatan otot sehingga dapat membantu mencegah jatuh terutama pada orang tua
  • Vitamin D berperan penting selama kehamilan.
DokterRematikAutoimun.com - Cek Kadar Vitamin D
Penting Melakukan Cek Kadar Vitamin D

Kadar Vitamin D harus dipertahankan normal selama kehamilan karena vitamin D berperan dalam pembentukkan gigi fetus, tulang fetus dan kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan fetus secara umum. Hal ini menyebabkan ibu hamil retan kekurangan vitamin D.

Dok, bagaimana saya tau saya kekurangan vitamin D?

Secara umum kekurangan vitamin D bisa saja tidak bergejala. Beberapa mengeluh nyeri pada otot dan sendi. Ada juga yang mengeluh ototnya lemah sehingga cepat capek.

Pemeriksaan apa yang dilakukan untuk deteksi defisiensi vitamin D?

Dalam praktek Rheumatologis sehari-hari saya menyebutnya tes vitamin D. Tapi sebernarnya yang diperiksa adalah kadar 25(OH)D. Hanya dengan pemeriksaan darah kita bisa mengetahui apakah kita kekurangan vitamin D atau tidak. Tes ini bisa dilakukan setiap 3 bulan.

Siapakah yang berisiko mengalami kekurangan vitamin D?

Ada kelompok orang tertentu yang retan mengalami kekurangan vitamin D. Rheumatologis akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi apakah anda berisiko kekurangan vitamin D. Beberapa factor risiko itu adalah:

  • Orang yang berkulit gelap
  • Orang yang bekerja sepanjang waktu di ruangan tertutup
  • Orang yang menggunakan tabir surya sepanjang waktu
  • Orang yang hidup pada daerah tertentu, dimana sinar matahari hamya muncul beberapa jam saja, misalnya Boston, London atau Toronto
  • Orang tua
  • Wanita Hamil
  • Kegemukan
  • Orang yang menggunakan kortikosteroid, obat anti kejang tertentu, rifampisin, obat  HIV dan obat jamur misalnya ketokonazol
  • Penyakit hati dan ginjal kronik
DokterRematikAutoimun.com - Berisiko Kekurangan Vitamin D
Yang Berisiko Kekurangan Vitamin D

Berapa sebernarnya nilai normal vitamin D?

Hal ini masih menjadi perdebatan para ahli. Beberapa organisasi dunia mengelurkan nilai normal yang berbeda-beda. Pada umumnya kadar vitamin D diklasifikasikan berikut ini:

  • Defisiensi                     : <20ng/ml
  • Insufisiensi                  : 21-29ng/ml
  • Sufisiensi (Cukup)   : >30ng/ml
  • Ideal                                : 40-60ng/ml

Dok, berapa rekomendasi konsumsi vitamin D?

Ini adalah kebutuhan rutin untuk setiap orang, tentunya jika anda mengalami defisiensi vitamin D , anda akan membutuhkan dosis yang lebih bear lagi.

  • Anak 0-1 tahun 400IU/d
  • 1-18 tahun 400-600IU/hari
  • 19-50 tahun minimal 600IU/hari
  • 50-70 tahun 600IU/hari
  • >70 tahun 800IU/hari

Jadi, vitamin D merupakan vitamin yang sangat penting tidak hanya untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis, tapi juga berperan dalam pencegahan infeksi dan regulasi sistem imun. Mintalah dokter anda untuk melakukan tes vitamin D dan berikan suplementasi vitamin D untuk mencapai kadar vitamin D yang normal.

 

Mari ketahui kadar vitamin D dalam tubuh kita sejak dini,

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten

 

 

Apakah ANA Positif Selalu Berbahaya ?

Tes ANA (Anti Nuclear Antibodies) adalah pemeriksaan yang sangat populer di bidang rematik autoimun. Nama tes ini sangat mudah diucapkan dan diingat. Bisa mirip dengan nama orang atau mirip dengan nama salah satu perusahaan penerbangan ternama. Akan tetapi hasil tes ANA sering membuat pusing tujuh keliling. Begitu mendapatkan hasil yang positif, biasanya akan timbul kesedihan yang mendalam. Timbul pikiran buruk terkena penyakit berbahaya? Apakah benar demikian?

Dalam praktek sebagai Internis Rheumatologis, sangat sering pasien datang dengan panik oleh karena tes ANA yang positif. Sebelum membahas lebih lanjut mengensi tes ANA , fakta dibawah ini penting untuk dipahami :

  1. Tes ANA positif bisa ditemukan pada orang sehat, tidak  menyandang penyakit autoimun apapun.

2. Tes ANA bisa positif pada orang yang mengonsumsi obat tertentu, padahal orang tersebut tidak terkena penyakit rematik autoimun.

3. Tes ANA tidak digunakan untuk chek up, biasanya dokter/Rheumatologist melakukan tes ini berdasarkan dugaan adanya penyakit rematik autoimun.

4. Jangan panik dengan tes ANA, tetap konsultasi dengan dokter untuk interprestasi tes ini. Jangan membuat diagnosis sendiri.

 

Mari mengenal Tes ANA

Kita ketahui bersama tubuh diciptakan dengan suatu sistem. Sistem tersebut disebut sistem imun, memproduksi protein yang disebut antibodi. Antibodi ini akan  bekerja melawan gangguan pada tubuh (misalnya benda asing,virus, bakteri). Pada suatu keadaan antibodi ini salah bekerja. Dia salah mengenal tubuhnya sendiri sebagai benda asing. Dia tidak melawan benda asing , melainkan melawan dirinya sendiri (melawan sel normal tubuh sendiri). Antibodi ini disebut AUTOANTIBODI.

Apa yang dilakukan autoantibodi ?

Autoantibodi menyerang sel tubuh normal, karena dianggap sebagai benda asing/ musuh. Akibatnya dimulailah rangkaian peradangan atau inflamasi yang menyerang tubuh normal..

Jadi dok tes ANA itu sebernarnya apa?

Tes yang sangat populer diminta oleh Rheumatologist, selain Rheumatoid Factor. Tes ini menunjukkan adanya autoantibodi yang menyerang nukleus/inti sel sehingga disebut Antinuclear antibody (ANA).

Dok Tes ANA saya positif , apa artinya?

Adanya autoantibodi secara normal dalam jumlah sedikit dapat ditemukan pada orang sehat. Autoantibodi ini pada keadaan patologis dalam jumlah yang bermakna ditemukan pada beberapa penyakit rematik autoimun seperti:

  1. Rheumatoid Arthritis

2. Lupus

3. Sjogren Syndrome

4. Skleroderma

5. Juvenile ideopatic Arthritis (Penyakit Rematik Autoimun anak).

6. Polimiositis/Dermatomiositis

7. Mixed Connective Tissue Disease (MCTD), penyakit rematik autoimun kombinasi skleroderma, lupus dan polimiositis/dermatomiositis.

8. Hepatitis Autoimun dan banyak penyakit autoimun lainnya.

 

Mengapa ANA tes sangat terkenal dalam proses diagnosis autoimun?

Tes ANA pertama kali ditemukan 1957 pada serum pasien Lupus. Meskipun pada penemuan awalnya antibodi ini berkaitan dengan Lupus, namun saat ini diketahui autoantibodi berkaitan dengan penyakit rematik autoimun lain. Tes ANA sangat sensitif untuk Lupus (lebih dari 95 % lupus positif ANA tes). Sehingga Tes ANA yang negatif bisa membantu menyingkirkan diagnosis Lupus.

DokterRematikAutoimun.com - ANA Test 1
Konsultasikan hasil ANA pada dokter kepercayaan Anda

Apakah ANA positif pasti menyandang penyakit rematik aitoimun tertentu?

TIDAK. Sekitar 15% ANA positif terjadi pada orang normal. Konsultan Reumatologi menegakkkan diagnosis penyakit rematik autoimun (lupus, sjogren, skleroderma dll) tidak HANYA berdasarkan tes ANA positif. Diagnosis Lupus dan penyakit rematik autoimun lainnya, dibuat berdasarkan kombinasi gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis ini biasanya berdasarkan kriteria diagnosis yang dibuat oleh Rheumatologist dunia. Misalnya kriteria diagnosis oleh American College of Rheumatologi (ACR) atau European League (EULAR). Tes ANA yang positif tanpa disertai gejala klinis yang sesuai dapat terjadi pada orang yang sehat. Jadi percayakan penilaian hasil test ANA anda pada dokter. Jangan membuat asumsi sendiri.

Jadi bagaimana jika ANA saya positif?

Terdapat beberapa kemungkinan :

  1. Tidak ada gejala apapun , berarti anda normal.

2. Gejala klinis mengarah pada penyakit tertentu misalnya lupus, sjogren, skleroderma, RA dll. Tentu saja diagnosis harus dibuat oleh seorang dokter.

3. Akibat penggunaan obat tertentu, misalnya hidralazin, sulfadiaxin, prokainamid, isoniazid, metildopa, quinidin, minosiklin, klorpromasin.

Apakah titer ANA yang tinggi menunjukkan beratnya penyakit?

Tidak. Titer ANA yang tinggi tidak menunjukkan beratnya penyakit. Titer ANA juga tidak dapat digunakan untuk memantau keberhasilan pengobatan. Tes ANA akan positif walaupun pasien sudah remisi dan tenang dalam pengobatan. Jadi tidak perlu berulang- ulang melakukan tes ANA jika diagnosis sudah ditegakkan.

Saat ini terdapat lebih dari 30 antibodi antigen nukleus spesifik. Bagaimana pemeriksaannya?

Pemeriksaan ini yang selama ini dikenal sebagai ANA Profile. ANA Profile mendeteksi autoantibodi IgG dalam darah secara spesifik terhadap beberapa antigen.

DokterRematikAutoimun.com - ANA Test
Pentingnya mengetahui ANA Profile

Apa manfaat ANA profil?

Pada orang dengan ANA positif dan memiliki kecurigaan akan penyakit rematik autoimun, pemeriksaan ini dilanjutkan untuk melihat antibodi khusus yang khas untuk tiap penyakit.

Dok, antibodi apa saja itu? Contohnya :

  1. Lupus : Anti dsDNA, Anti Smith

2. Skleroderma : Anti Scl 70, Anti centromer

3. MCTD : U1 RNP

5. Sjogren Syndrome : Anti SSA/Ro dan Anti SSb/La

6. Dermatomiositis : Anti Jo1

7. Vaskulitis : pANCA dan cANCA , dan masih banyak lagi.

Dok, Anti dsDNA saya negatif , saya bukan lupus ya dok? Berarti selama ini saya salah minum obat?

Pendapat ini TIDAK BENAR. Sekali lagi diagnosis Rematik Autoimun tidak hanya berdasarkan hasil laboratorium. Anti dsDNA memang sangat spesifik buat lupus, tapi hanya positif pada 30-70 % pasien Lupus. Jadi tidak semua Lupus akan positif Anti dsDNA. Dan anti dsDNA yang negatif tidak menyingkirkan diagnosis lupus.

 

Mari belajar lebih banyak lagi tentang penyakit Rematik Autoimun,

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR
Internist Rheumatologist
Siloam Hospital Lippo Village
Tangerang Banten